Dunia pendidikan, khususnya hubungan antara guru dan murid memang menampilkan sebuah realita sosial sehari-hari yang penuh dengan warna tersendiri. Sedikit atau banyak, perilaku pendidik memengaruhi pula kelakuan murid, atau peserta didik. Itulah yang membuat profesi guru atau pendidik menjadi tidak mudah, ia akan digugu dan ditiru. Banyak dilema antara guru dan murid yang bisa menimbulkan cerita tersendiri, baik dari segi positif maupun negatif. Hal inilah yang ingin digambarkan oleh Eko S. Bimantara, seorang mahasiswa seni rupa UNJ yang membuat komik strip pertamanya berjudul “Guru Berdiri Murid Berlari”.
Cerita-cerita yang berada dalam komik perdananya ini menggambarkan keseharian yang sadar atau tidak, memang jamak terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta. Misalnya saja, kejadian contek mencontek antar teman di kelas, pengalaman dimarahi guru, ataupun peristiwa dimana seorang anak murid yang kecewa ketika tahu hadiah menjadi juara hanyalah sebuah piala, bukan berbentuk uang. Tokoh-tokoh yang muncul pun seakan-akan sangat akrab bagi kita. Guru yang galak mengingatkan kita akan guru Bahasa Indonesia kala SMP, murid yang usil mengingatkan akan teman yang badung ketika SMA, sedangkan kejadian lain mengingatkan akan kelakuan kita sendiri yang pernah kita alami dalam menghadapi lika-liku yang terjadi di masa sekolah. Tak hanya sekedar melucu, Eko juga mengangkat beberapa isu pendidikan, semisal Ujian Nasional, ataupun mengenai kesejahteraan guru yang membaik.
Lepas dari isi komik, ciri khas yang jelas terlihat dalam tiap goresan Eko ialah gambar mata dari tokoh-tokoh dalam komik. Semua mata tokoh yang ia gambar bagaikan keluar dari rongga mata. Selain itu pilihan kata untuk narasi komik ini sendiri juga cukup berbeda dan “keluar” dari kaidah bahasa yang dipakai sehari-hari. Misalnya kata “Aduh” dia ubah menjadi “Adah”, ataupun “Adow”.
Komik ini tidak terlalu tebal, dengan merogoh kocek sebesar Rp 16.500, komik yang pastinya membuat Anda tersenyum ini sudah dapat Anda miliki. Cukup terjangkau untuk para pendidik yang honorer, ataupun murid SMA negeri yang sehari-hari naik sepeda ke sekolah. Mengenai sang pengarang, Eko, jika Anda pernah melewai jembatan di samping taman Ria Senayan, Anda akan menemui gambar “Buaya & Cicak” di bawah jembatan itu yang mengangkat tema mengenai korupsi yang baru-baru ini ramai dibicarakan. Untuk sekarang, Eko yang memiliki rambut kribo masih terus berkegiatan di komunitas seni rupa dan pendidikan “Serrum” di Jakarta Timur sambil mencoba menyelesaikan kuliah S1nya.
Blog Eko S.Bimantara dapat dilihat di sini: Ekotoon
Cetak Halaman Ini
Waktu : Pukul 08:00 - 20:30 WIB
Tempat : Ruang Etnografi - Museum Sejarah Jakarta





