Cerita Sukses

Jeihan Sukmantoro

“Kalau jadi orang tua jangan nyusahin anak, kalau jadi anak jangan nyusahin orang tua. Saya siap untuk hidup dan saya siap untuk mati!” Jeihan Sukmantoro

STUDIO JEIHAN merupakan tempat berkarya dan museum pribadi seniman Jeihan yang dikenal dengan lukisan-lukisan perempuannya yang bermata hitam. Studio Jeihan terletak di Jl. Padasuka 143 –145 Cicaheum Bandung, Jawa Barat, Indonesia mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 26 September 1998. Studio ini dibangun diatas tanah seluar 2 hektar dan memiliki tiga tingkat. Di dalam studio ini terpajang lukisan-lukisan terbaik Jeihan, berbagai koleksi benda antik dan barang-barang kesayangan Jeihan: gamelan, wayang, patung dan masih banyak lagi.

Di salah satu ruang Studio Jeihan kita dapat menyaksikan beberapa koleksi karya perupa Jeihan sebelum kepindahannya ke Bandung. Terutama ketika era 50-an, saat ia masih belajar senirupa di Himpunan Budaya Surakarta. Antara lain sejumlah karya gambar, sketsa dan beberapa di antaranya dengan media cat air. Juga sejumlah karya cukilan kayu yang bertemakan kehidupan keseharian di Surakarta (Solo).

Terhitung sejak dibukanya Pameran BreakThrough maka Studio Jeihan terbuka bagi  seniman lain untuk berpameran.

Jeihan Sukmantoro

Pada usia 4 tahun, Jeihan dititipkan kepada tantenya dari pihak ibunya. Ketika ayahnya berkunjung, seketika membuat hatinya senang. Dia keluar dari kamar, bergegas lari keluar menuruni anak tangga. Mungkin karena terlalu semanga, Jeihan terpeleset dan terjatuh. Tulang lehernya patah dan mendesak otak kecilnya. Jeihan dikatakan cacat saat itu. Dia selalu dirundung sakit.

Selain pernah cedera pada kepala, semasa kecilnya Jeihan seorang autis. Banyak yang tidak suka terhadap dirinya. Kenakalannya kadang dinilai tidak wajar. Pisah dari orang tua, mengalami terror dan horror sendiri, penyendiri dan kehidupan sosialnya hanya dijalani pada masa sekolah dan kuliah. Tetapi, hal ini justru membuat dirinya mandiri dalam memecahkan masalah.


Sejak kecil Jeihan diajarkan untuk disiplin dan mandiri. Ketika masih anak-anak, Jeihan bercita-cita untuk menjadi dalang wayang kulit. Wayang kulit menurut Jeihan merupakan pendidikan seninya yang pertama dan kuat. Menurut Jeihan dalang adalah seniman yang luar biasa. Tokoh idola wayang kulitnya adalah “Gareng”. Alasannya, Gareng adalah manusia pekerja keras. Gareng menjadi idealisme Jeihan juga, bahwa dalam melangkah dalam hidup harus penuh pertimbangan dan perhitungan.

Jeihan adalah seorang seniman Indonesia yang multitalenta. Selain pelukis, Jeihan juga seorang penyair sekaligus tokoh dan konseptor dari puisi mbeling dan membuat patung-patung tokoh dari lempengan tembaga. Jeihan adalah seniman yang multi talenta.

" Puisi mbeling adalah puisi yang membumikan persoalan secara konkret, langsung mengungkapkan gagasan kreatif ke inti makna tanpa pencanggihan bahasa.” Jeihan Sukmantoro.

Pelukis Kaya Raya

Seniman kelahiran Ngampel, Boyolali, 26 September 1938 adalah seniman terkemuka di Indonesia. Jeihan menempati posisi kematapannya dalam khazanah seni lukis figurative khas dengan mata hitam pekat, mengiringi manusia sebagai objek utamanya. Jeihan adalah pelukis nomor satu di Indonesia. Dia pelukis paling kaya di Indonesia. Jeihan adalah yang paling berani melukis cepat di depan para pejabat negara dan Presiden terpilih.

Harga satu buah lukisan Jeihan sangat tinggi. Pada tahun 1985, satu lukisan Jeihan dibeli dengan harga Rp. 50 Juta. Padahal ketika itu, lukisan-lukisan Afandi, pelukis yang namanya saat itu sudah mendunia, harganya paling tinggi Rp.10 Juta. Model lukisan Jeihan bukan saja orang-orang yang lazim kita temui dijalanan, di pasar atau di terminal. Jeihan kerap diminta oleh orang-orang penting seperti antara lain Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono, dan Mufidah Kalla, istri mantan Wapres RI, Jusuf Kalla. Jeihan termasuk golongan pelukis yang sangat beruntung.

Lukisan-lukisan Jeihan terus menjadi buruan walaupun harganya terus meningkat. Kondisi ekonomi Jeihan jadi berubah, jadi jauh lebih baik. Padahal jika dibandingkan dengan Jeihan saat masih menjadi mahasiswa di Seni Rupa ITB, dimana pada saat itu untuk makan saja Jeihan sangat susah, bahkan sampai hampir tiap malam tidur di kolam renang Cihampelas, Bandung, karena tidak punya uang.

Banyak diulas kritikus seni, Jeihan secara filosofis memadukan alam mistik timur dengan alam analitis barat. Karyanya yang diam kukuh mencitrakan suasana meditatif. Pameran tunggalnya sudah diselenggarakan di berbagai kota didalam dan luar negeri. Dalam hitungan lebih dari 50 kali. Selain pameran tunggal yang banyak menimang sukses, Jeihan juga berpameran dengan para pelukis Indonesia lainnya di berbagai tempat.

Namun, sekarang jangan ragukan Jeihan Sukmantoro. Kini ia mempunyai sejumlah rumah, mobil selusin walaupun tidak bisa menyetir, studio yang diberi nama Studio Jeihan di atas tanah seluas dua hectare, memiliki Jeihan Institute dan membangun dua masjid. “Karena saya membangun dua masjid, saya akan punya dua villa. Satu untuk saya dan keluarga, satu untuk teman-teman saya seperti kau”. Ujar Jeihan sembari tersenyum.

Sebagai pelukis yang kaya raya, Jeihan juga seorang dermawan. Ia membangun dua masjid di area Cicadas, Bandung, Jawa Barat dan di Pasirlayung, Bandung, Jawa Barat. Jeihan memiliki kepribadian yang mudah bergaul dan cepat akrab walaupun baru kenal.

1 2 3