Berita Indonesia Kreatif
Saktinya Jejaring Kreatif Sakti
Umum | 29 Juli 2010
Video Mapping 3D di Museum Fatahillah, Jakarta, sudah berlalu sekian bulan. Tapi, kehebohannya masih bertahan. Di Google jumlah artikel tentang event ini sudah mencapai 80,000 artikel. Betapa tidak, bangunan bersejarah itu “pecah” berantakan seperti kaca kena lemparan batu. Adegan sekitar satu menit itu benar-benar bikin pengunjung ternganga. Sebelum dan sesudahnya, dinding depan museum menjadi layar bagi proyeksi gambar bergerak, fotografi, dan desain komputer. Ada pemandangan Jakarta dari masa kolonial sampai era modern.
Tontonan tersebut menjadi bagian hajatan “Kota Kreatif Jakarta Punya!” yang digagas oleh Pemprov DKI Jaya, British Council, serta Kamar Dagang dan Industri Jakarta. Video Mapping merupakan kolaborasi pekerja seni Inggris dan Indonesia: seniman multimedia D-Fuse, desainer Adi Panuntun, sineas Sakti Parantean, fotografer Feri Latief, dan penulis Taqarrable.
Sakti, 36 tahun, mengaku menyimpan ketakjuban sendiri. Hari itu, sepanjang siang sampai sore ia bersama tim produksi berada di dalam museum. Jelang malam, betapa terkejutnya ia ketika mendapati sekitar 45 ribu orang sudah berkumpul di depan gedung. “Publik betul-betul rindu tontonan yang segar dan menembus batasan-batasan,” kata Sakti.
Bagi Sakti, keberhasilan Video Mapping dan kemenangannya pada International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Screen Award 2008 di Inggris membuatnya makin yakin menekuni bisnis kreatif, dunia yang sebetulnya tak dipelajarinya secara formal. Ia lulus sebagai sarjana ekonomi dari Curtin University, Australia. Minatnya pada dunia kreatif mulai tumbuh pada tahun terakhir kuliah ketika ia mengambil mata pelajaran e-commerce. Sekalipun masih terkait dengan dunia finansial, pelajaran yang satu ini membuka mata pria berdarah Toraja ini tentang kemungkinan-kemungkinan lain.

Sakti Parantean saat mengarahkan video mapping 'Topeng Dancer' pada bulan Maret 2010
Langkah percobaan ke dunia film dimulai Sakti dengan magang sebagai asisten produksi di beberapa film dokumenter Australia pada 1996. Ia pulang ke Indonesia tiga tahun berikutnya. Ia lantas mendirikan rumah produksi tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai konsultan keuangan. Setelah kepergian mitra asingnya, ia mendirikan Fictionary Media Technology (FMT) pada 2002 dan total di sini. Nama FMT ia pilih karena punya keyakinan suatu saat media audiovisual akan multiplatform, bergabung dengan internet.
Prediksi ini terbukti tak meleset. Menurut pemetaan industri kreatif Kementrian Perdagangan, tahun 2007 saja sektor film, televisi, dan animasi sudah menyumbang hampir Rp. 4 trilyun kepada ekonomi Indonesia.
FMT memproduksi iklan, program televisi, film dokumenter, dan jasa logistik. Perusahaan ini, misalnya, menjadi pemasok Indonesia pertama untuk stasiun Al Jazeera.

Sakti Parantean (copyright Jerry Aurum for British Council)
Tidak mau tanggung-tanggung, Sakti meluaskan bisnisnya dengan membentuk Hybrid! Fictionary yang memberi akses kepada tenaga-tenaga kreatif film di Indonesia mendapatkan proyek berskala lokal, nasional, hingga internasional. Ringkasnya, semisal ada rumah produksi dari luar negeri membutuhkan tenaga kreatif untuk keperluan syuting di Indonesia, jejaring Hybrid! Fictionary siap dipekerjakan. Kerja sama dengan pihak asing ini dinilai Sakti bisa membuka pintu sineas dan pekerja film Indonesia berkiprah di panggung internasional. “Sesama pekerja kreatif adalah mitra, bukan pesaing apalagi musuh,” ujar Sakti.
Langkah menggandeng tenaga kreatif lokal ini terbukti jitu karena pemasukan perusahaannya meningkat dari tahun ke tahun. Tahun lalu, angkanya sekitar Rp 3 miliar.
Tak kalah penting, terobosan kemitraan itu yang juga membuatnya menang IYCE Screen Award di Inggris --orang film Indonesia kedua yang meraih penghargaan ini setelah animator Wahyu Aditya di tahun 2007. Ia menyisihkan peserta dari sembilan negara lain.
Selama acara IYCE, Sakti memperhatikan kesungguhan dukungan pemerintah Inggris kepada industri kreatif. Ia menilai hal ini wajar adanya mengingat setelah perekonomian Inggris kolaps setelah kejatuhan industri manufaktur pada 1970-an, penyokong utama ekonomi kemudian adalah industri kreatif dan olahraga. “Mestinya, Indonesia tak perlu menunggu minyak atau kekayaan alam lain habis untuk benar-benar mendukung bisnis kreatif,” kata Sakti, yang saat ini terlibat intens dalam program Indonesia Got Talents bersama Indosiar.
Kunjungannya ke Inggris juga makin menguatkan pilihannya menyinergikan teknologi dan seni. Kemajuan teknologi dinilainya memperbanyak gerai (outlet) bagi pekerja audiovisual Indonesia. Pilihan tak lagi terbatas stasiun televisi nasional dan asing atau bioskop konvensional. “Kreator sekarang bisa mengunggah karya mereka di situs-situs yang menerapkan pay per view,” ujar Sakti gembira.
Bila kamu berusia 25-35 tahun dan bekerja di bidang kreatif, kini giliranmu menjadi wakil Indonesia di IYCE Award di London, UK. Segera daftarkan dirimu di www.britishcouncil.or.id





